Jawabannya:

"Aku Mas Nur. Adegan ini direkam dari pita rusak yang jatuh di ruang proyeksi. Tapi yang lebih aneh: setiap kali aku membuat subtitle Indonesia untuk adegan ini, teksnya berubah dengan sendirinya. Seperti ada yang menulis dari dimensi lain. Inilah kebenaran: 'In the Name of the King' bukan sekadar film B. Ia adalah peringatan. Dan kita di Indonesia yang paling mengerti: karena kita terlalu sering mendengar nama raja, presiden, penguasa—dipakai untuk menghalalkan segala dosa."

Jangan lupa untuk selalu dukung perfilman dengan menonton film ini di platform resmi jika tersedia. Namun, jika film ini sulit ditemukan dengan terjemahan lokal, link di atas adalah solusi yang kami sediakan bagi para pengunjung setia blog ini.